Diskusi Wirausaha
Formula Untuk Mandiri
24/08/2010 11:37Moto CommunityAuthor: MotoDream

Kalau ada yang bilang kalau kampus adalah tempat orang kritis, itu benar. Lalu, seperti apa sifat kritis yang membangun? Diantaranya adalah dengan belajar dari yang berpengalaman. Inilah yang dilakukan Presiden Direktur Yamaha Indonesia, Dyonisius Beti yang berbagi ilmu kewirausahaan dengan mahasiswa Universitas Islam As-Syafi’iyah.
Acara (5/7) ini dinamakan Studium Generale Kewirausahaan dengan narasumber Dyonisius Beti. Ada sekitar 100 orang yang hadir dalam aula ini. Sebagian besar adalah mahasiswi yang berasal dari Fakultas Ekonomi.
Ajang ini adalah kesempatan besar bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan Dyonisius Beti. Lelaki bersahaja ini adalah orang Indonesia pertama yang menjabat posisi Presiden Direktur Yamaha Indonesia. Sebelumnya untuk posisi ini dipegang oleh orang Jepang dan ini menjadi sejarah baru di dunia ATPM roda dua khususnya Yamaha Indonesia. Dalam kesempatan ini dihadiri oleh Tuty Alawiyah sebagai rektor UIA dan Fahmi Idris yaitu mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan sebagai narasumber dari sisi pemerintahan.
Dyonisius Beti menjelaskan napak tilas bagaimana perjuangan Yamaha hingga menjadi market leader saat ini. Waktu itu, Alumni ITB ini diberi mandat untuk bisa mengeluarkan Yamaha dari krisis moneter dan penjualan pada tahun 1998. Saat itulah Dyon membuat program "Reform not Revenge" karena ia memiliki filosofi bijak untuk menghadapi masalah. "Dalam kesulitan selalu ada peluang. Itulah filosofinya," ujar Dyon.
Dyonisius Beti melalui acara ini sekaligus membuka kesempatan bagi mahasiswi untuk mengelola bengkel secara mandiri. "Ini adalah program pertama dan satu-satunya di Indonesia dimana sebuah bengkel seluruhnya dikelola oleh wanita" tutur Dyonisius kepada peserta diskusi yang disambut dengan riuh tepuk tangan.
Alhasil, pada sesi tanya jawab ada banyak pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa kepada Presiden Direktur Yamaha dan diantaranya; "Apa pendapat bapak soal wanita mengelola bengkel? Karena untuk mengelola bengkel pasti bikin kotor padahal wanita selalu ingin tampil cantik?" Tanya seorang mahasiswi. "Itu wajar saja kalau kotor, tapi bagi saya yang penting itu wanita harus cantik dari dalam," tutup Dyonisius Beti.