Bolt-On, Go-Go-Go!!!
Ketika "Fairing" Akhirnya Terpasang di Motor Balap
27/08/2010 14:06Aksesori SparepartsAuthor: Dimas
Silakan terkekeh, tersinggung, heran, atau lainnya waktu kami ingin mengabarkan bahwa fairing pada sepeda motor era awal memiliki julukan "tong sampah". Kenapa bisa begitu? Nanti saja ya ceritanya. Yang jelas, sadar atau tidak disadari, orang-orang memahami bahwa fairing tak ubahnya KTP yang menandakan bahwa sebuah motor berstatus motor sport. Begitu kan ya?
Kira-kira mungkin begitu. Di media massa, atau mungkin dalam sebuah forum tentang review kendaraan roda dua, jika kendaraan roda dua itu punya fairing, biasanya muncul ungkapan "motor bergaya sporty ini…" dan semacamnya. Demikian halnya pada dunia modifikasi. Seorang modifikator, dari yang andal hingga yang bertaraf iseng-iseng, kerap memasangkan fairing di perempat bagian depan badan motornya demi status tadi. Bahkan, sorry, kadang-kadang ada yang terlihat memaksa.
Namun, secara serius, fairing adalah salah satu "senjata" andalan di dalam dunia balap motor. Taly Purwa, salah seorang pemerhati MotoGP di dunia maya, menuliskan bahwa fairing pada masing-masing motor peserta MotoGp memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ia pun memberi contoh fairing yang dipakai Yamaha pada YZR-M1 memiliki bentuk membulat dengan penampang utama besar. Dengan bentuk ini, aliran angin tidak akan menimbulkan turbulensi yang dapat menahan laju motor saat dipacu dengan kecepatan tinggi di trek lurus. Singkatnya, motor tersebut unggul di lintasan lurus.
Kembali ke "tong sampah", ngomong-ngomong, siapa sebenarnya yang tega membuat sebutan demikian untuk sebuah teknologi yang kemudian diandalkan banyak orang?
Si Tong Sampah
Sebenarnya tong sampah atau "dustbin" fairing pun hanya julukan lantaran bentuk benda ini dan juga bahannya berasal dari logam yang kira-kira menyerupai kaleng tong sampah. Lebih jauh, sebutan ini ada untuk mengibaratkan fairing yang besar dan bulat bahkan nyaris menutupi 100 persen bagian depan sepeda motor. Silakan dibayangkan sendiri bentuknya. Yang jelas, manusia mempunyai keinginan untuk mengeksplorasi, makanya bentuk fairing seaneh ini mungkin-mungkin saja diciptakan.
Namun, ketika peranti ini digunakan pada kisaran 1950, si penggunanya yang merupakan orang Italia mengalami kecelakaan hebat. Rupanya, benda ini salah perhitungan. Peristiwa tersebut berbuntut pada pelarangan dari FIM, badan otomotif yang melahirkan MotoGP. Kisaran 1958, FIM melarang penggunaan fairing yang menutup hingga ke bagian roda depan.
Walau begitu, bukan berarti FIM keras kepala dan melarang penggunaan fairing sepenuhnya. Sebab, pada 1957, badan ini mengeluarkan regulasi mengenai badan motor, termasuk fairing.
Sekadar tambahan, hingga kini masih ada orang yang memperdebatkan alasan pelarangan "dustbin" fairing pada masa itu. Lepas dari alasan FIM tadi, muncul juga komentar bahwa pelarangan itu terkait dengan estetika bentuk dari "dustbin" fairing. Singkatnya, karena bentuknya aneh dan membuatnya tidak menyerupai motor ketika dipasangkan, maka motor berpelengkap "dustbin" fairing tidak boleh ikut balapan. Alasan ini diperkuat dengan teori bahwa pada masa itu tentu saja orang-orang belum berpikir soal faktor keselamatan karena toh belum memperhitungkan hal-hal itu secara sistematis seperti layaknya di masa-masa yang akan datang.
Namun, kembali lepas dari semua itu, ada juga pertanyaan, apa sebenarnya fairing? Apakah ini nama seseorang yang diambil untuk menghormati temuannya, seperti halnya James Watt dan kawan-kawannya?
Perkenalkan, saya "Fairing"
Bicara fairing, berarti kita juga bicara soal fisika, matematika, dan ilmu IPA lainnya. Sebal? Jangan dulu. Ya, mungkin memang sedikit bertele-tele, tapi kira-kira penggambarannya sebagai berikut.
Perlu diketahui bahwa alam semesta ini, termasuk Bumi, terdiri dari materi-materi. Selain manusia, binatang, tumbuhan, materi-materi itu juga mencakup benda hidup dan benda mati lainnya, termasuk udara, mencakup oksigen yang kita hirup, dan karbondioksida yang kita embuskan. Singkatnya, alam semesta ini padat.
Ketika suatu benda bergerak cepat, benda itu sama saja dengan membelah materi udara yang jika digambarkan terdiri dari lapisan-lapisan. Pada masa awal perkembangan pesawat terbang, disadari bahwa faktor terpenting pada sebuah pesawat adalah kemampuannya untuk melambung tinggi, dan mengalami hambatan sesedikit mungkin saat pesawat itu bergerak cepat membelah udara atau udara yang bergerak (angin). Nah, hambatan-hambatan bisa saja terjadi ketika permukaan badan pesawat yang tidak rata beradu dengan lapisan-lapisan angin. Alhasil, gerakan pesawat akan tidak lancar. Peristiwa ini disebut turbulensi.
Hal itu juga terjadi pada kapal. Air akan terbelah oleh badan kapal sehingga menghasilkan lekukan-lekukan atau yang kita lihat sebagai gelombang air. Sama halnya dengan pesawat, permukaan yang tidak rata akan membuat badan kapal memperoleh hambatan-hambatan saat bergerak. Situasi ini membuat para ahli matematika melakukan sebuah analisis. Mereka akhirnya bisa mengira-ngira, pada titik manakah lapisan udara atau angin (dan juga air) akan terbelah oleh sebuah permukaan benda, yang kemudian akan menghasilkan turbulensi.
Lekukan lapisan udara tanpa hambatan yang dibelah oleh permukaan suatu benda disebut "continuous" oleh para ahli matematika tadi. Lebih jauh, sebuah lekukan juga memiliki radius antara lekukan yang baru saja terjadi dan lekukan-lekukan berikutnya. Jika tidak ada loncatan tiba-tiba di antara radius lekukan ini, maka kondisi itu disebut seimbang atau "fair". Dengan begitu, maka memasang sayap ke badan pesawat tidak bisa asal-asalan. Bentuk menyudut pada pertemuan di antara ujung sayap yang menempel ke badan pesawat saja bahkan tidak “fair”. Berdasarkan temuan ini, para desainer pesawat perlu menempatkan sayap secara presisi dan berimbang lalu menutupi bagian yang menyudut itu dengan sebuah lapisan logam keras yang melengkung dan mulus. Lapisan logam keras inilah yang kemudian disebut fairing. Jadi, sudah dipastikan bahwa fairing bukan nama orang.
Pada kisaran 1970, barulah para produsen kendaraan menyadari bahwa bentuk badan kendaraan yang mulus saat membelah lapisan angin bisa berpengaruh pada faktor irit bahan bakar. Kenapa? Mesin tidak perlu bekerja lebih lebih keras karena hambatan angin pada badan kendaraan. Untuk itu, para produsen ini pun meminta para pendesain pesawat terbang untuk menerapkan sistem fairing tadi pada kendaraan produksi mereka.
Kisah ini bisa saja melenceng dari sejarah. Namun, ilmu matematika menjadi nyata ketika fairing akhirnya terpasang di badan motor balap. Dan ketika Valentino Rossi merunduk untuk semakin melesat seakan menyatu dengan fairing motornya, lapisan angin terbelah sempurna mengantarkannya hingga di garis finis.