Kota Tua Yang Bicara
02/09/2010 10:30News UpdateAuthor: Arista
Beratus tahun yang lalu, Batavia adalah Mutiara bagi bangsa-bangsa asing. Ibu kota Indonesia ini memiliki banyak kawasan sejarah, salah satunya adalah kawasan Jakarta Kota. Kalau Motobikers berada di kawasan ini, dijamin seperti mendapatkan nuansa lain dari kebanyakan kawasan ibu kota di dunia. Menyusuri Kota Tua Jakarta dimulai dari Pelabuhan Sunda Kelapa dan berakhir di Taman Fatahillah akan mengingatkan kembali kejayaan Batavia tempo doeloe.
Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu wajah kota tua Jakarta. Pelabuhan Sunda Kelapa kini merupakan pelabuhan bongkar muat barang, utamanya kayu dari Pulau Kalimantan. Di sepanjang pelabuhan berjajar kapal-kapal Phinisi atau Bugis Schooner dengan bentuk khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal. Setiap hari tampak pemandangan para pekerja yang sibuk naik turun kapal untuk bongkar muat.
Pelabuhan Sunda Kelapa sebetulnya telah terdengar sejak abad ke-12. Kala itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk milik kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat, Padjadjaran, terletak dekat Kota Bogor sekarang. Kapal-kapal asing yang berasal dari Cina, Jepang, India Selatan, dan Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu.
Bangsa Eropa pertama asal Portugis tiba pertama kali di Sunda Kelapa tahun 1512 untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan dunia barat. Keberadaan mereka ternyata tidak berlangsung lama, setelah gabungan kekuatan Muslim Banten dan Demak, dipimpin Sunan Gunungjati (Fatahillah), menguasai Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta atau yang artinya ”Kemenangan yang Nyata” pada 22 Juni 1527. Kini tiap tanggal 22 Juni dirayakan sebagai hari jadi Jakarta.
Setelah Portugis hengkang, para pedagang asal Belanda tiba tahun 1596 dengan tujuan yang sama, mencari rempah-rempah. Rempah-rempah sangat dicari saat itu dan menjadi komoditas mewah di Belanda karena berbagai khasiatnya seperti obat, penghangat badan, dan bahan wangi-wangian. Para pedagang Belanda (yang kemudian tergabung dalam VOC) awalnya mendapat sambutan hangat dari Pangeran Wijayakrama dan membuat perjanjian.
Namun, tergiur dengan potensi pendapatan yang tinggi dari penjualan rempah-rempah di negara asalnya, VOC mengingkari perjanjian dan mendirikan benteng di selatan Pelabuhan Sunda Kelapa. Benteng ini, selain berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang, juga digunakan sebagai benteng perlawanan dari pasukan Inggris yang juga berniat untuk menguasai perdagangan di Nusantara. Benteng tersebut dibangun tahun 1613, kira-kira 200 meter ke arah selatan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara ini menempati salah satu Bastion (sudut benteng) yang tersisa. Lokasi menara yang tingginya 18 meter ini kini menempati salah satu sudut Benteng Selatan yang masih tersisa. Dari menara Pandang ini bisa disaksikan Landscape kota tua Jakarta. Seperti Musium Bahari. Dulunya musium ini adalah gudang tempat penyimpanan barang - barang dagang VOC di abad 17 dan 18. Hingga kini bangunan ini tetap dipertahankan kondisi aslinya untuk pariwisata.
Sekira 50 meter ke arah barat menara terdapat Museum Bahari. Di dalam museum ini dapat disaksikan peralatan asli, replika, gambar-gambar dan foto-foto yang berhubungan dengan dunia bahari di Indonesia, mulai dari zaman kerajaan hingga ekspedisi modern. Museum ini sebetulnya menempati bangunan gudang tempat menyimpan barang-barang dagang VOC di abad 17 dan 18, dan tetap dipertahankan kondisi aslinya untuk kegiatan pariwisata. Bahkan sebagian bangunannya bisa disewa untuk acara-acara pribadi. Pada sisi utara museum masih terdapat benteng asli yang menjadi benteng bagian utara.
Memasuki Jln. Tongkol di selatan museum, kita akan tiba di lokasi bekas bengkel kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard. Di sini, pada masa lalu, kapal-kapal yang rusak diperbaiki. Saat ini, bangunan memanjang dengan jendela-jendela segi tiga di atapnya tersebut direvitalisasi sebagai restoran dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya. Gerbang di jembatan jalan kakap ini tetap dipertahankan mewakili arsitektur kuno.
Ke arah selatan, melewati jembatan tol, menyusuri Kali Ciliwung, terdapat lokasi asli kota Batavia. Pemerintah kolonial Belanda mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia ketika berkuasa di Jakarta pada abad ke 17. Kawasan kota lama ini merupakan hasil rancangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterzoon Coen, yang ingin membangun Amsterdam versi timur di Batavia. Dikawasan ini terdapat jembatan unik khas Belanda. Jembatan kayu ini dikenal sebagai jembatan Kota Intan. Dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1628 sesuai dengan gaya aslinya di Amsterdam, bisa diangkat ketika kapal melintasinya. Namun kini jembatan ini tidak terurus lagi. Kayunya pun telah keropos dimakan usia.
Masih dikawasan kota lama tepatnya di Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur. Berjajar bangunan - bangunan dari abad 18. Kawasan ini merupakan pusat benteng Kota Batavia. Beberapa bangunan unik khas Eropa dikawasan ini masih dapat ditemui dengan baik, seperti bangunan Neo Clasic dengan ornamen warna putih. Berjalan ke arah selatan sepanjang Sungai Kali Besar dan berbelok ke arah kiri di Jalan Pintu Besar Utara 3 Motobikers akan tiba di lokasi di mana gedung pusat Bank Indonesia yang lama berdiri. Gaya arsitekturnya khas seperti umumnya bangunan BI di kota-kota di Indonesia, yaitu Neo-Classic, terlihat indah dengan ornamennya dan berwarna putih. Bangunan BI ini dibangun pada awal tahun 1990-an. Dari BI kita berbelok di Jalan Pintu Besar Selatan dan berjalan ke arah utara, menuju kawasan Taman Fatahillah. Taman Fatahillah merupakan lapangan terbuka berbentuk persegi empat dengan bangunan-bangunan bersejarah di semua sisinya.
Di sisi utara terdapat sebuah restoran yang menempati bangunan dari awal tahun 1800-an. Di sampingnya, bangunan bergaya art deco yang berfungsi sebagai kantor pos. Di sisi timur berdiri bangunan bergaya Indische Empire Stiijl, bekas gedung pengadilan yang kini berfungsi sebagai Museum Seni Rupa. Di dalamnya dipamerkan koleksi keramik, lukisan, dan gambar-gambar yang menjelaskan perkembangan seni rupa di tanah air.
Di sisi selatan berdiri megah bangunan Museum Sejarah Jakarta. Bangunan unik yang terdiri dari dua lantai ini memamerkan barang-barang asli, replika, gambar-gambar dan foto-foto yang menunjukkan perkembangan sejarah Jakarta dari masa prasejarah hingga kini. Sebetulnya masih ada basement, yang digunakan sebagai ruang tahanan semasa pemerintahan VOC, lengkap dengan rantai-rantai besi asli yang digunakan untuk mengikat kaki para tahanan. Suasana muram, gelap dan pengap yang dirasakan ketika menengok lantai bawah tanah ini sanggup membuat bulu kuduk berdiri membayangkan kondisi sulit para tahanan saat itu.
Museum Sejarah (Stadhuis) dibangun tahun 1620 hingga 1707 atas inisiatif Gubernur Jenderal Coen dan awalnya digunakan sebagai bangunan balai kota semasa VOC berkuasa. Taman Fatahillah yang terletak di depannya menyimpan banyak sejarah, salah satunya pembantaian 5.000 keturunan etnis Cina pada tahun 1740. Penyebabnya karena VOC merasa terancam dengan keberadaan etnis Cina di Batavia yang jumlahnya membengkak, serta naluri bisnis mereka yang kuat.
Kawasan Kota Tua Jakarta hanyalah salah satu dari beberapa kawasan historis di Jakarta. Masih ada yang lain seperti Glodok (Pecinan), kawasan sekitar Pasar Baru, Medan Merdeka, dan Menteng. Namun bila dilihat dari urutan sejarahnya, kawasan Kota Tua adalah cikal bakal perkembangan dan sejarah Kota Jakarta, sehingga terasa lebih menarik untuk dijelajahi dengan motor.