Selama musim MotoGP 2012, Ben Spies belum menunjukkan tajinya sebagai pembalap utama Yamaha. Pencapaiannya sampai seri ketiga, hanya bertengger di posisi 11, persis seperti nomor motornya.

Selama musim MotoGP 2012, Ben Spies belum menunjukkan tajinya sebagai pembalap utama Yamaha. Pencapaiannya sampai seri ketiga, hanya bertengger di posisi 11, persis seperti nomor motornya.

Ide kreatif dan variatif memang dibutuhkan seorang bikers. Untuk terus menunjukan eksistensi, kegiatan positif wajib dilakukan. Selain itu, bukan hanya untuk tujuan hiburan melainkan juga demi kebersamaan antara penunggang kuda besi.

Akhir pekan ini MotoGP akan melawat ke Sirkuit Le Mans, Prancis (20/5). Selisih satu poin Lorenzo (65) di bawah Stoner dengan koleksi 66 poin, membuat Lorenzo cukup yakin dapat membalikkan keadaan.
Berperawakan gemuk, balap dengan motor standar plus celana jeans sebagai wearpack seadanya, membuat Fachrul Didu jadi bahan ejekan pembalap dan penonton. Kenyataan pahit ini ia jalani, karena orang tua tidak mendukung hobi yang sudah menjadi pekerjaannya itu. Padahal dari sini semuanya bermula. Sekarang ia menjadi pengusaha bengkel di daerah Sengkang Makassar, sekaligus pemilik tim balap Didu Racing Team.
"Mana bisa menang. Emang bisa ngegas si gendut itu?" kalimat mencibir dari salah satu rivalnya itu, terus terngiang dan terekam baik di pikirannya, saat ia menjadi pembalap Yamaha era 90-an. Menyadari keterbatasan yang ada dalam dirinya, tak membuat semangatnya kendur. Justru ia semakin terpacu untuk membuktikan bahwa ia layak diperhitungkan sebagai salah satu pembalap terbaik dari Makassar.
"Pada tahun 90-an, peraturan tentang wearpack belum begitu ketat. Beda dengan saat ini yang mengharuskan setiap pembalap mengenakan wearpack standar. Saat itu, saya nggak punya modal, jadilah saya mengenakan baju seadanya. Tapi soal semangat, saya paling pol. Saya terus buktikan keraguan banyak orang dengan juara," kenang Fachrul, yang kini mengelola dealer Yamaha Agung Motor Sengkang-Makassar.
Ngumpet-ngumpet untuk sekedar latihan, sudah menjadi rutinitas yang wajib. Meski begitu Fachrul sudah mulai bisa menabung uang dari hasil menang balap tarkam (antar kampung) untuk menuju pentas balap yang lebih besar lagi. Kerja kerasnya tidak sia-sia, ia berhasil menjadi juara satu Yamaha Cup Race (YCR) seri Makassar tahun 1997 di kelas sport (2 tak-RX-King). Berikutnya pada tahun 2000, ia kembali menjadi yang tercepat saat Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kenjeran, Surabaya.
Masa muda Fachrul Didu yang setia membalap untuk Yamaha, berbuah manis di ujung hari. Setelah usianya tidak lagi muda, pada suatu kesempatan Fachrul ditawarkan membuka dealer Yamaha khusus service di daerahnya. Karena selain balap, ayah dari pembalap termuda Yamaha Indonesia, Agung Didu (8) juga hobi utak-atik mesin. Hal ini ternyata sudah mendarah daging dari ia masih membalap sampai pensiun dari hingar bingar dunia balap.
Sekali lagi hobinya ini, ia aplikasikan di dunia nyata untuk membuka bengkel umum, sebelum ada tawaran membuka dealer Yamaha. "Dari dulu saya suka utak atik mesin motor. Selain prestasi dan tetap setia dengan Yamaha, mungkin itu pula pertimbangan Pak Ayong (Dulu manager balap dari Makassar-PT Suraco Jaya Abadi Motor) mempercayakan saya untuk membuka dealer Yamaha, dan Alhamdulillah sampai saat ini terus berkembang," jelas suami dari Hj. Andika ini.
Kini semua ambisi untuk menjadi pembalap profesional, tercurahkan untuk anaknya. Ia tak segan-segan mendukung buah hatinya sampai kemana karirnya akan terus berkembang. Buah semangat dan kesetiaannya kepada Yamaha, ia tularkan kepada anaknya. Ia banyak berharap, dengan dukungan penuh dari orangtuanya, Agung dapat terus belajar menjadi pembalap profesional yang mengharumkan nama bangsa.
"Keterbatasan yang saya miliki, nyatanya bisa menjadi kelebihan yang orang lain tidak miliki. Yang penting terus semangat. Makanya hal ini saya terus adaptasikan ke Agung. Saya ingin karir balap Agung semakin bagus dan mengharumkan nama besar Yamaha serta Indonesia," harap Fachrul ”Gendut” Didu.
Semoga sukses terus pak!