Akhir pekan ini MotoGP akan melawat ke Sirkuit Le Mans, Prancis (20/5). Selisih satu poin Lorenzo (65) di bawah Stoner dengan koleksi 66 poin, membuat Lorenzo cukup yakin dapat membalikkan keadaan.

Akhir pekan ini MotoGP akan melawat ke Sirkuit Le Mans, Prancis (20/5). Selisih satu poin Lorenzo (65) di bawah Stoner dengan koleksi 66 poin, membuat Lorenzo cukup yakin dapat membalikkan keadaan.

Masyarakat seharusnya mampu membedakan geng motor dengan club atau komunitas motor. Sangat bertolak belakang memang aktivitas yang dilakukan keduanya. Jika geng motor tenar dengan aksi anarkis dan pembuat keonaran, tidak demikian dengan club atau komunitas motor. Berbagai kegiatan positif kerap dila...

Buat bikers yang hobi nonton film horror, satu lagi film layar lebar ‘mengguncang’ bioskop tanah air dengan konsep hantu yang kerap bergentayangan. Kali ini, motodream.net akan memberikan sajian film setan yang tentu saja cocok untuk bradercis yang menyukai film lokal serem. Selain film komedi dan ...
Bagi masyarakat dunia balap nasional, nama Hokky Krisdianto (30) bukanlah nama yang asing. Pembalap dengan motto hidup racing for life ini, dikenal luas karena prestasi dan attitude-nya. Hal itulah yang kemudian mengantarkan Hokky, sebagai duta pembalap nasional sekaligus instruktur Yamaha Riding Academy (YRA). Mantab dan bergengsi!
Yamaha Riding Academy adalah kawah candradimuka pembibitan pembalap Yamaha, untuk lebih siap lagi berlaga di kelas balap besar seperti Supersport. Sebab, dari sini mimpi pembalap Indonesia dapat berlaga di MotoGP-sebagai supremasi balap tertinggi, pelan dan pasti dapat terlaksana. Di YRA ini, Hokky ditunjuk Yamaha sebagai instruktur YRA untuk melatih 20 pembalap muda di sirkuit Sentul, dengan menggunakan Yamaha V-Ixion, Yamaha TTR125 dan Yamaha YZF-R6.
Soal pengalaman, jangan diragukan lagi. Alumni Universitas Atmajaya, jurusan ekonomi tahun 1999 ini adalah Juara Balap Nasional 2006. Setahun kemudian, prestasinya semakin gemilang dan mencatat juara untuk kedua kalinya (Juara Nasional 2007).”Keputusan saya bergabung dan membalap di Yamaha semakin bulat. Bukan karena soal prestasi saja. Di Yamaha, semua nggak ada yang nggak mungkin, karena jenjang balapnya tidak mentok sampai nasional saja melainkan hingga jenjang internasional” jelas mantan juara Yamaha Asean Cup Race 2007, saat dihubungi MotoDream.
Bicara kawahcandra dimuka, Yamaha memiliki jenjang karir berlanjut seperti di Yamaha Cup Race (YCR), dimana setiap pembalap berbakat dapat mengikuti balap ke level tinggi lagi seperti di Yamaha Asean Cup Race (YACR), Asean Road Racing Championship (ARRC), Petronas Asean Road Racing Championship (PARRC), Supersport Nasional, All Japan Championship dan level tinggi lainnya seperti Moto3 hingga MotoGP.
Merintis Balap Dari Nol
Kisah sukses Hokky ternyata sebelumnya harus bercampur peluh. Mulai serius membalap sejak tahun 1996, saat itu Hokky harus mengerjakan sendiri semua kebutuhan balapnya. ”Era saya, pembalap pemula harus bisa mengerjakan sendiri. Mulai dari setting motor sendiri, kesono-kemari bawa motor sendiri, tidak ada tim yang pasti untuk mensupport bakat kita dan lain sebagainya” kata pembalap kelahiran Magelang, 15 November 1980 ini.
”Tapi, dunia balap sudah kadung mandarah daging meski awalnya hobi saja. Sesulit apapun rintangan yang ada di depan, malah sudah menjadi gaya hidup yang harus dilalui dengan baik. Ban bagi saya, balap itu racing for live” tegasnya lagi. Menurut Hokky, gaya penggodokan pembalap eranya dengan sekarang jauh berbeda. Tapi sisi positifnya, hal itu membuat pembalap era sekarang lebih agresif lagi membuktikan pencapaiannya. ”Sekarang untuk jadi pembalap jauh lebih mudah, jika bicara pengorbanannya. Semuanya hampir 100 persen sudah disediakan tim. Pokoknya tinggal geber saja”
Apa yang disampaikan Hokky ini, tentu tidak bermuara pada nilai perbandingan. Tapi satu yang pasti, mekanisme semakin membaik untuk jadi pembalap, seyogyanya melahirkan pembalap yang jauh lebih baik lagi. ”Dan itu bukan hanya catatan diatas kertas saja. Meski baru di kelas bebek, namun yang pasti dominasi pembalap Indonesia di kelas bebek sudah berlangsung lama. Malaysia, Thailand dan negara Asean lainnya mengakui hal ini” tegas suami dari dari Agnes Mila ini.
Di akhir penutup wawancara dengan mantan Juara Nasional Indoprix 110cc & 125cc 2008 dan Juara Nasional Indoprix 110cc 2009 ini, Hokky berpendapat bahwa untuk menjadi juara, seorang pembalap bukan hanya pintar dan canggih dalam menaklukan lintasan. Jauh lebih penting dari itu adalah attitude yang dimiliki seorang pembalap juga harus baik. ”Kemenangan sejati bukan pada prestasi dilapangan saja. Attitude juga jadi faktor penentu kemenangan hidup yang sesungguhnya” tutup Hokky.
Betul mas bro!