Saatnya Puasa Energi
18/08/2010 14:25FeatureAuthor: MotoDream
Sabar...sabar..., lho sabar kenapa? Katanya BBM untuk roda dua dibatasi. Terus pajak kendaraan bermotor juga ikut naik. Terakhir kabarnya kalau beli motor second harus balik nama? Duh! Makin berat beban hidup sekarang ini. Tapi untung ada bulan puasa. Saatnya menahan diri.
Okay, di bulan puasa ini saya akan mencoba lebih menahan diri. Maklum, status masih pegawai belum jadi bos, jadi harus pintar-pintar mengatur uang untuk lebaran nanti. Saya berpikir apa yang bisa dilakukan selama bulan puasa ini selain beribadah... A-ha! Saya mulai dengan berhemat dengan BBM.
Dulu, minimal seminggu 2 kali saya kopdar di sekretariat di Tebet, Jakarta Selatan. Padahal rumah ada di Bintaro, Tangerang Banten. Artinya? Untuk kopdar saja, saya harus menempuh jarak 42 Km. Itu belum ditambah dengan rute kerja Bintaro – Rawamangun yang jaraknya hingga 45 Km dan itu rutin dilakukan dari Senin sampai Jumat. Phew! Sudah berapa kilometer yang saya tempuh setiap hari lalu dikalikan 30 hari? Sudah berapa banyak BBM yang saya sedot setiap minggunya? Dan sudah berapa Kg CO2 yang saya buang ke atmosfir.
Sadar kalau energi ada batasnya, makanya saya mulai berhitung dan berangkat dari perilaku berkendara saya. Terutama di bulan puasa ini. Setiap hari saya selalu bergantung pada Vixi saya. Vixi keluaran 2010 ini tergolong motor yang hemat energi. Dulu saya pakai bebek, tapi berhubung jarak tempuh jauh, makanya beralih ke Yamaha Vixion.
Dalam seminggu saya rutin mengisi bensin Premium Rp. 50.000 dan bisa dapat 11,11 liter di SPBU. Meskipun Vixi punya teknologi Fuel Injection tapi masih saja terasa aus terus. Tahu sebabnya? Itu karena saya paling suka buka gas besar sampai RPM menunjukan 8000. Terus paling senang main-main gas untuk mengganti klakson. Aah! Perilaku bodoh! Alhasil dalam seminggu bisa menghabiskan lebih dari Rp. 50.000,-. Kebayang kalau terus menerus seperti ini, dampaknya bukan kecil tapi juga pengaruh pada hal lainnya dalam jangka waktu sebulan, terutama di bulan puasa ini. Pertama tabungan semakin tergerus akibat komsumsi BBM. Padahal jika baca buku petunjuk penggunaan Vixi disarankan untuk tidak menekan RPM lebih dari 8000-10.000 RPM. Pasalnya, dari sinilah saya mengetahui bahwa Vixi yang saya naiki akan lebih maksimal dalam urusan komsumsi BBM. Apalagi pakai sok gagah-gagahan memainkan gas bak berada di sirkuit Laguna Seca yang siap melahap lawan-lawan balap. Oh no! Not again!
Momentum puasa membawa inspirasi baru buat saya, yaitu berhemat. Kebiasaan kopdar setiap minggu rasanya mesti sedikit dikurangi. Mungkin jadi 2 minggu sekali. Itupun masih memilih-milih agenda apa yang dilakukan. Kalau bikin "Sahur on the Road" itu masih OK. Saya pasti akan beri masukan untuk "Sahur on the Road" tahun ini. Saya mau paket sahur yang dibagikan benar-benar tepat sasaran dan lebih baik koordinasi dengan masyarakat, tentang area mana yang belum pernah diadakan "SOTR". Pilihan lain dengan memberikan santunan atau sahur bersama kaum Dhuafa yang ada di sekitar sekretariat. harapannya dengan aktifitas ini, saya dan teman-teman tidak perlu menggunakan BBM untuk touring mencari lokasi SOTR. Selain hemat energi, hubungan dengan warga sekitar menjadi dekat dan saling memberi dengan yang terdekat.
Puasa menurut saya adalah menahan diri dari hawa nafsu. Termasuk dengan perilaku berkendara saya yang dari hari ke hari bukan membaik, tapi malah memburuk. Akibat terbawa emosi di jalan. Jadi saya membuat beberapa konsep yang khusus dijalankan di bulan puasa ini. Pertama yang akan saya lakukan adalah kembali pada perilaku berhemat BBM. Diawali dengan mengisi bahan bakar yang sesuai dengan karakter motor. Jika motor itu perlu Pertamax maka berilah Pertamax dan jika perlu Premium berilah Premium. Toh, sewaktu membeli motor saya sudah tahu konsekuensi bahan bakar yang diperlukan. Lagipula dengan menggunakan BBM dengan Non-Timbal akan membuat motor lebih irit dan mesin lebih awet. Kedua, mengakhiri kebiasaan buka-buka gas dan ketiga adalah dengan memberi waktu untuk Vixi "beristirahat" dan saya menikmati ibadah puasa tahun ini.
Asumsi saya jika lebih berhemat energi di bulan puasa akan memberikan dampak positif untuk lingkungan. Pasalnya ketika cadangan energi menipis maka otomatis harga energi makin mahal. Lalu, apa iya seterusnya menjerit berdemo ketika energi semakin mahal?
Pilihan saya memilih Vixi memang sudah tepat. Apalagi untuk urusan hemat BBM atau energi. Tinggal bagaimana mengubah perilaku saya yang boros menjadi efisien. Dengan mengubah perilaku berkendara, tentu banyak perubahan yang bisa saya dapatkan. Pertama, yang tadinya seminggu bisa menghabiskan uang sebesar Rp. 50.000,- maka berikutnya saya targetkan keluarkan Rp. 35.000 dalam seminggu. Dan hasilnya, saya bisa nabung Rp. 60.000,- dari selisih BBM saja. Itu belum termasuk tabungan dari selisih belanja aksesoris, uang saku selama kopdar. Hasilnya? Tabungan saya kecil-kecil lama-lama menjadi bukit.
Menjelang Lebaran nanti, saya ada punya rencana dari "tabungan energi" ini. Saya mau saya belanjakan untuk membeli sejadah. Nantinya sejadah ini mau saya taruh di sekretariat. Sejadah ini nantinya akan bermanfaat buat teman-teman anggota yang ingin sholat. Dengan kata lain, Brotherhood harus punya "tabungan energi" di bulan puasa ini. Jadi, tak cukup hanya dengan "tabungan akhirat" saja kan? Suatu saat nanti saya yakin kalau seluruh teknologi motor di dunia punya kemampuan di bidang efisiensi energi. Tapi semua itu tetap tergantung pada sejauh mana pengendaranya menyadari energi, bukan motornya. Sama seperti halnya Safety Riding. Safety Riding itu berasal dari pengendaranya kan? Dan bukan dari motornya. Marhaban yaa Ramadhan.