Akhir pekan ini MotoGP akan melawat ke Sirkuit Le Mans, Prancis (20/5). Selisih satu poin Lorenzo (65) di bawah Stoner dengan koleksi 66 poin, membuat Lorenzo cukup yakin dapat membalikkan keadaan.

Akhir pekan ini MotoGP akan melawat ke Sirkuit Le Mans, Prancis (20/5). Selisih satu poin Lorenzo (65) di bawah Stoner dengan koleksi 66 poin, membuat Lorenzo cukup yakin dapat membalikkan keadaan.

Masyarakat seharusnya mampu membedakan geng motor dengan club atau komunitas motor. Sangat bertolak belakang memang aktivitas yang dilakukan keduanya. Jika geng motor tenar dengan aksi anarkis dan pembuat keonaran, tidak demikian dengan club atau komunitas motor. Berbagai kegiatan positif kerap dila...

Buat bikers yang hobi nonton film horror, satu lagi film layar lebar ‘mengguncang’ bioskop tanah air dengan konsep hantu yang kerap bergentayangan. Kali ini, motodream.net akan memberikan sajian film setan yang tentu saja cocok untuk bradercis yang menyukai film lokal serem. Selain film komedi dan ...
Satu motor untuk balap di dua kelas yang berbeda, sepertinya bukan ide yang bagus. ”Soal ketahanan mesin, kecepatan, menang dan kalah jadi urusan belakangan. Jauh lebih penting justru risetnya,” kata Deri Yudivisco (38), instruktur sekaligus mekanik GMC Rese’x Jaya Perkasa, Gelumbang, Muara Enim, Sumatera Selatan.
Nama Deri Yudivisco mungkin ”terlalu” nyentrik untuk seorang mekanik, dan mungkin sedikit yang mengenal kiprahnya. Tapi jika sebut Deri Bonek, pembalap dan mekanik mana yang tidak mengenalnya? Mantan pembalap era 90-an ini, dulu dikenal bengal dan ”sedikit gila”. ”Itu dulu mas, saat saya membalap di era-nya juga pembalap seperti Mas Jayadi, Tobun Dicky, Imanudin dan Ade Taruna. Saat itu kalau nggak sedikit gila, nggak akan jadi pembalap yang diperhitungkan” ungkap Deri, saat berbincang hangat dengan MotoDream di YCR seri Kota Metro, Lampung (12/06).
”Setelah menggantungkanbaju balap karena faktor usia, saya banyak bergaul dengan urusan mesin dan terus menjalin komunikasi dengan mekanik lainnya, seperti dengan Mas Hawadis (Jakarta) Merit, Heru, Imam (Jawa) dan Bagus (Bali)” lanjut mantan pembalap klasemen empat besar nasional, saat YCR di Sentul, Jakarta era 90-an ini.
Bicara kualitas sentuhan Deri di ruang ”dapur pacu”, meski dengan modal cekak sehingga ide satu motor untuk turun di dua kelas yang berbeda (125 Tune up Pemula/ MP3 dan 110 Tune up Pemula/MP4), tak membuat motor yang dibesutnya kehilangan nyali di sirkuit. Melalui joki balapnya (Leonardo Augustinus), pembalap yang merupakan anak kandung Deri. Derbon alias Deri Bonek dapat melihat seksama perkembangan mesin hasil risetnya selama ini, sekaligus mengamati perkembangan gaya balap anaknya.
Unsur Riset, Pengalaman, dan Keterbatasan Budget
”Pada prisnsipnya, setelah melihat gaya balap Augustinus yang cenderung agresif, saya hanya mengganti piston Fim diameter 52. Dan sebagai penyeimbangnya lagi, silinder blok sengaja saya papas 0,6-silinder head dipapas 0,8 dan terakhir seting durasinya (in 272) dan (x 271)” bedahnya. ”Kalau bicara lainnya, seperti overleap kita gantung dikisaran 32 dan untuk noken as, kita pakai yang kecil saja, ukuran standar. Maklum duitnya nggak sampai kesitu” beber Deri.
Bagaimanapun uji coba Deri yang menggabungkan unsur riset, pengalaman dan budget-nya patut diapesiasi. Semprotan tenaga motornya di kelas MP 3, sempat konstan memimpin di posisi ke tiga saat babak final. Sayang, di lap-lap akhir, Augustinus terus dipepet beberapa pembalap Lampung yang datang bergerombol dibelakangnya, dan naas bagi Augustinus harus tersungkur di sirkuit. Beruntung, Augustinus kembali bangkit dan terus balap hingga bisa finis diposisi ke tujuh.
”Kalau sampean perhatikan. Power motor saya terus naik selepas lap ke lima. Torsinya makin jadi karena andalan putaran bawah. Padahal kalau bicara kompresi, kita seting di 13,7:1. Sayangnya, pada pengapian kita pakai AC miliknya motor Vega. Padahal yang lainnya rata-rata menggunakan DC. Ya itu tadi, masih kebentur budget” curhat Deri.
Sebenarnya berapa sih mas bro, harga modif pengapian biar tetap bagus?
Secara umum, itu relatif, tergantung budget-nya masing-masing. Tapi secara umum juga lumayan mahal. Miliknya Vega saja sudah dua juta. Belum ditambah CDI, misal pakai BRT hightmax, coil wz 125, magnet, spull dan lainnya. Pokoknya kalau mua jujur, khusus pengapian saja sudah lumayan habis 2,5 jutaan” jelas Deri.
“Tapi saya bangga. Meski sudah jutaan rupiah keluar untuk biaya riset saya ini. Saya puas dapat berpartisipasi di YCR-Dan kini sebagai mantan pembalap, saya sangat berharap, penerus saya dapat mencetak prestasi lebih baik lagi” harap Deri.
Amin...