Peredaran sepeda motor baru yang semakin banyak disebabkan karena proses kredit yang terbilang mudah. Kendati demikian, pertumbuhan kredit otomotif roda dua yang semakin signifikan membuat Bank Indonesia (BI) cemas. Selain itu, meroketnya pertumbuhan kredit motor menyebabkan penggelembungan ekonomi (bubble).
Sorotan tajam BI karena pemberian uang muka (DP) yang ringan dan syarat mudah. Karena itu, BI akan melakukan koreksi dengan menetapkan uang muka sebesar 10-20 persen. Rencana kenaikan uang muka ini disampaikan langsung Perry Warjiyo selaku Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI.
Menurutnya, BI memang berencana untuk menaikan uang muka kredit kendaraan roda dua. Tujuannya adalah agar perusahaan perkreditan tetap aman dan tidak akan terjadi bubble. “Sampai saat ini kami masih menggodok rencana menaikan uang muka untuk kredit motor. Namun hal itu masih dalam tahap awal agar tidak terjadi masalah pada sektor perusahaan pembiayaan kredit motor,” imbuhnya, kemarin (15/11/11).
Kendati demikian, BI tetap optimis bahwa kredit kendaraan bermotor tetap baik tahun ini dan secara keseluruhan masih terbilang bagus diatas 23 persen. Kebijakan BI ini dikarenakan lebih kepada persoalan tekhnis. Saat ini dan kedepannya, kredit akan tetap diberikan namun tetap dengan prinsip kehati-hatian.
Sehingga kredit macet jumlahnya tidak akan terus membengkak. “Ini dilakukan sebagai upaya antisipasi agar kredit bermasalah tidak akan bertambah dan bisa ditekan dengan metode seperti ini,” imbuhnya. Dari keterangan yang dirilis BI, pembiayaan kredit bermotor yang digelontorkan bank dan perusahaan leasing tahun lalu mencapai Rp 130 triliun dengan perkiraan sebesar Rp33 triliun.