Dikenal sebagai pembalap low profile dan memiliki jiwa entertainment yang tinggi. Yamaha Racing Factory akhirnya resmi meminang Ben Spies pada awal MotoGP 2011. Loyalitas Ben dengan pabrikan Yamaha juga jadi pertimbangan lain. Menjuarai World Superbike (WSBK) 2009 bersama Yamaha, setahun kemudian dinobatkan sebagai Rookie of the year di tahun pertamanya di MotoGP. Dan kini, Ia pasang target untuk masuk tiga besar diperebutan tangga juara MotoGP 2011.
Pembalap kelahiran 11 juli 1984 ini, lahir bukan dari keluarga pembalap yang menorehkan prestasi apik. Tidak seberuntung Valentino Rossi, bakatnya mengendalikan kuda besi hingga bisa menjadi kampium di beberapa ajang kejuaraan Moto GP, bisa dibilang ada turunan dari mendiang ayahnya. Ben kecil sama seperti anak-anak Amerika lainnya, dia suka bermain sepeda, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat TV.
Menginjak usia remaja, Ben muda adalah seorang yang enerjik dan pintar , kegemarannya menonton tontonan balap, sering kali membuat dia berdecak kagum melihat idolanya salah satunya Valentino Rossi, meliuk-liukan kuda pacunya di lintasan sirkuit. Berangkat dari hal ini pulalah cita-cita Ben untuk menjadi pembalap profesional semakin kuat dan kemudian mengantarkannya untuk bergabung di tim lokal Amerika.
Ibaratnya gayung bersambut. Tidak lama setelah Ben mengasah bakatnya pada tim balap lokal, mental dan karakter balapnya mulai muncul. Bahkan mampu mencuri perhatian tim pabrikan seperti Suzuki. Pabrikan Jepang berlogo S itu adalah tim pertama yang meminang Ben Spies untuk berlaga di kejuaraan AMA-Formula Extreme 2002. Dan di akhir kompetisi, pembalap berjulukan The Elbowz itu sukses menempati posisi ke 6 klasemen. Sejak saat itu, tercatat ada tiga kejuaraan besar yang pernah Ben ikuti selama tahun 2002 hingga sekarang, seperti AMA all series (Formula Xtreme, Supersport, Superbike, Superstock), WSBK hingga MotoGP. Tentu bukan proses yang mudah mencapai ke tahapan MotoGP. Tahun 2006 boleh dibilang titik cerah masa depan Ben di dunia balap. Strategi balapnya mulai matang, karakternya juga kian stabil. Hingga beberapa kali mengikuti kejuaraan AMA all series, Ben selalu menjadi juara umum sampai tahun 2008.
Dunia balap pun perlahan mulai melirik kepiawaian Elbowz. Alhasil di tahun 2008, The Elbowz masuklintasan MotoGP sebagai wild card tim Rizla Suzuki. Namun sayangnya produsen berlogo huruf S tersebut membaca prestasi Ben dirasa belum mampu bertarung di arena MotoGP, karena perolehan poinnya hanya menduduki posisi 19 klasemen.
Gabung di Yamaha Tech 3
Lain ladang lain belalang. Yamaha justru menilai Ben Spies memiliki kemampuan yang luar biasa. Maka tidak perlu lama bagi tim satelit Yamaha yaitu tim Yamaha Tech 3 untuk meminang The Elbowz. Sejak saat itu secara resmi Ben masuk skuad tempur produsen garpu tala ini. Nah untuk mengasah kemampuannya, pembalap yang juga rajin berkampanye safety riding untuk anak-anak dengan melucurkan Kiddy Moto ini, tidak dipaksakan mengikuti ritme pertempuran di kejuaraan MotoGP secara langsung. Justru Ben Spies beradaptasi di kelas keduanya yaitu ajang World Super Bike (WSBK).
Hasilnya? WSBK ramai dibicarakan penggemar balap dunia. Karakter balap si Elbowz yang cenderung berani dan agresif, mampu mengantarkannya menduduki tahta tertinggi di WSBK sebagai juara umum di tahun 2009, setelah memecundangi Noriyuki Haga, pembalap Ducati. Torehan prestasi Ben ini membuka pintu puasa prestasi Yamaha di kejuaraan ini, setalah lama mandul sejak 1988. Setahun kemudian, di musim perdananya di MotoGP, Ben raih status rookie of the years berkat konsistensinya selalu masuk di posisi 10 besar. Hasil ini pula yang mangantarkannya masuk lagi di tim inti Yamaha Factory Racing, tak tanggung-tanggung untuk menggantikan juara bertahan, Valentino Rossi yang hengkang ke pabrikan lain.
Gabung di Tim Utama
Sempat terseok-seok di awal musim, perlahan Spies menunjukkan kemajuan besar dengan di dua seri terakhir, memenangi MotoGP seri Assen dan selalu finis di lima besar. Menurut Ketua Ben Spies Official Fans Club, Luca Ottolini, memercayai Spies bakal masuk tiga besar klasemen akhir musim ini. "Menjadi juara tetap masih ada kemungkinan. Tapi tiga besar klasemen akhir sepertinya lebih realistis," sebut Luca kepada Yamaha Indonesia.
"Dia memiliki bakat seperti pembalap dunia Kevin Schwantz, favorit saya juga. Sebelum mengenal Ben sebagai individu, saya jatuh cinta dengan gaya membalapnya. Saya sangat menyukai caranya menghadapi setiap tikungan dan karakter yang ditunjukkannya di trek. Semakin mengenalnya, saya makin menyukainya," aku Luca.
Lantas bagaimana pendapat Ben Spies mengenai tagline Semakin di Depan yang dikenakannya? "Saya menyukai tagline itu (Semakin di Depan) dan menampilkannya pada motor artinya membagi spirit dengan siapapun yang menonton balapan. Tagline itu seperti yang ada dalam pikiran saya, selalu memikirkan untuk melakukan yang terbaik dalam segala usaha. Saya rasa tagline itu bisa digunakan untuk menggalakkan safety in riding, keselamatan dalam berkendaraan di jalanan mengingat banyaknya motor di luar sana," ungkap Spies, seperti diberitakan Yamaha Yamaha Indonesia. Sudah enam bulan belakangan ini Spies aktif menjalankan program safety riding yang dimulai dengan memperkenalkan helm sepeda Kiddy Moto untuk anak-anak.
Jadi sebagai pembalap, Spies juga peduli keselamatan berkendara. Salut!